Kamis, Juli 30, 2015

Jawabanku untuk Singopolo Bangil



 Pernah belajar di Dalwa Islamic Boarding School

Dia menulis :
Barangsiapa belajar kpd seorg guru, setelah lama belajar dia mengingkari ilmu dan perbuatan guru tersebut ( mendurhakainya) , apakah pantas murid yg durhaka mendapat ilmu manfaat? Dan bagaimana kita bisa mengikuti murid yg demikian ? Renungkanlah!
 Komentarku ( Mahrus ali ):
Perkataan tsb mungkin di arahkan kpd orang lain. Juga boleh juga untuk saya. Dan komentar  itu  di kolom komentar status sy Bila  untuk sy maka  sy jawab sbb:

Bagaimana  nasib sy bila  guru ahli bid`ah sy, terus saya ikuti keibid`ahannya. Sudh  tentu  saya akan sesat dengan sendirinya  tanpa  disuruh sesat.
Bagaimana nasib sy bila saya meninggalkan dalil  sahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengambil ajaran  guru yg menyalahi  dalil. Sudah tentu sy ini termasuk melanggar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk taat pd  guru tsb.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sy tinggalkan untuk mengambil guru ahli bid`ah. Ini sama dengan ihtihza`, menghina kpd Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Saya ingat firmanNya:
وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tobat 65.
Bila  sy taat pd ajaran guru ahli bid`ah sampai mati, maka  sy mati  dlm keadaan ahli bid`ah, bukan ahli sunnah . Semoga Allah menyelamatkan sy dari padanya.
Saya harus menyelisihi guru sy yang ahli bid`ah untuk ikut dalil atau guru  ahlissunnah yg komit .
Anda menyatakan:
apakah pantas murid yg durhaka mendapat ilmu manfaat?

Komentarku ( Mahrus ali ):
Murid yg taat pd ajaran guru ahli bid`ah jelas mendapat ilmu kesesatan yg membahayakan kpd  kaum muslimin dan dirinya sendiri. Dan  murid yg durhaka kepada  guru ahli bidah dan membuang ajaran kebid`ahannya, lalu mengganti  dengan  ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  yg berdalil  akan bermanfaat  untuk  diri dam kaum muslimin. Ilmu sedemikian ini  dikatakan bermanfaat bukan berbahaya . Ini ilmu yg mencerahkan bukan ilmu kebid`ahan yg menggelapkan.
Tidak ada ilmu kebid`ahan yg bermanfaat. Seluruh ilmu kebid`ahan membahayakan. Cuman salah kaprah dikalangan ahli bid`ah istilah ilmunya tidak manfaat untuk  ilmu kebid`ahan yg ditinggalkan.
Ingat perkataan salaf kita :
Imam Ahmad pernah menyatakan: 

لاَ  تُقَلِّدْنِي وَلاَ  مَالِكًا وَلاَ  الثَّوْرِيَّ وَلاَ  الشَّافِعِيَّ
Jangan ikut kepadaku,atau Imam Malik, Tsauri atau Syafii.
Ali ra  berkata :
مَا كُنْتُ لِأَدَعَ سُنَّةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِقَوْلِ أَحَدٍ *
Aku  tidak akan meninggalkan sunah Nabi  S.A.W.    karena  perkataan orang “. [1]
Imam Malik berkata :
إنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُصِيبُ وَأُخْطِئُ فَاعْرِضُوا قَوْلِي عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
        Aku hanyalah manusia , terkadang pendapatku benar , di lain waktu kadang salah . Karena itu , cocokkan perkataanku ini dengan kitabullah dan hadis Rasulullah .

Imam Syafii yang menyatakan :
إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي .
Bila ada hadis sahih , maka  lemparkan perkataanku ke tembok . Bila kamu lihat hujjah telah berada di jalan , maka  itulah perkataan ku 
 لاَ تُقَلِّدْ دِينَك الرِّجَالَ فَإِنَّهُمْ لَنْ يَسْلَمُوا مِنْ أَنْ يَغْلَطُوا .
Dalam masalah agama,jangan ikut orang , sebab  mereka mungkin juga salah .

Anda menyatakan:


 Dan bagaimana kita bisa mengikuti murid yg demikian ? Renungkanlah!

Komentarku ( Mahrus ali ):
Mengikuti murid yg durhaka kepada guru ahli bid`ah lalu  taat pd  Allah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jelas lebih baik  dari pada mengikuti kpd murid yg sendiko dawuh kpd guru ahli  bid`ah yg boleh dikatakan penegak kebid`ahan
untuk mematikan sunnah.