Kamis, Januari 01, 2015

Bangkai ikan haram , kajianku ke 3

Hadis lemah sebagai pegangan orang untuk menghalalkan bangkai ikan adalah membahayakan bukan menyelamatkan, nentang  al quran yang mengharamkan bangkai secara mutlak baik ikan atau hewan darat tanpa dibedakan tapi di samaratakan.
حَدَّثَنَا أَبُو مُصْعَبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ الْحُوتُ وَالْجَرَادُ
Telah memberitakan kepada kami Abu Mush'ab telah memberitakan kepada kami Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari Ayahnya dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Telah di halalkan bagi kita dua jenis bangkai; bangkai ikan paus dan belalang." HADIST NO – 3209 / KITAB IBNUMAJAH

دَّثَنَا أَبُو مُصْعَبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ
Telah menceritakan kepada kami Abu Mush'ab telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari Ayahnya dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Telah dihalalkan buat kalian dua jenis bangkai dan dua jenis darah, dua jenis bangkai adalah; bangkai ikan paus dan bangkai belalang, sedangkan dua jenis darah adalah  hati dan limpa." HADIST NO – 3305 / KITAB IBNUMAJAH. Ia  juga diriwayatkan  oleh Imam Ahmad  HADIST NO – 5465

Komentarku ( Mahrus  ali ):
Dalam dua hadis di atas dari perawi yang sama namun ternyata redaksinya berbeda, tidak sama.  Pada nomer 3209 riwayat Ibnu Majah  tiada tambahan "  darah " . Tambahan ini dari mana  dari perawi , atau  dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Kontradiksi sedemikian ini membikin lemahnya hadis. Di samping sanadnya  dari Abd Rahman bin Zaid bin Aslam yang lemah. Lihat keterangan sbb:



المسند الجامع (20/ 36)
((أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ.)).
أَخْرَجَهُ أحمد 2/97(5723) قال : حدثنا سرَيج. و((عَبد بن حُميد)) 820 قال : حدثنا عمر بن يونس اليمامي , أبوحفص. و((اابن ماجة)) 3218 و3314 قال : حدثنا أبو مُصعب.
ثلاثتهم (سُرَيج ، وعُمر ، وأبو مُصعب) قالوا : حدثنا عبد الرحمن بن زَيْد ابن أسلم ، عن أبيه ، فذكره.

Komentarku ( Mahrus  ali ):
Intinya hadis tsb  dari satu orang yaitu Abd Rahman bin Zaid bukan lainnya. Seluruh sahabat  sampai mati tidak kenal hadis itu kecuali Ibn Umar, begitu juga seluruh tabiin tidak kenal hadis itu sampai mati kecuali Zaid bin Aslam. Dikitab manapun hadis itu dari perawi  bernama Abd rahman bin Zaid bin Aslam. Dalam mausuah ruwatil  hadis ada keterangan sbb:
  • * *



  ــ  عبد الرحمن بن زيد بن أسلم القرشى العدوى مولاهم ، المدنى ، مولى عمر بن الخطاب ( أخو عبد الله بن زيد )

المولد  :
الطبقة : 8  : من الوسطى من أتباع التابعين
الوفاة : 182 هـ
روى له : ت ق
مرتبته عند ابن حجر : ضعيف
مرتبته عند الذهبـي : ضعفوه
و قال عبد الله بن أحمد بن حنبل : سمعت أبى يضعف عبد الرحمن بن زيد بن أسلم ،
و قال : روى حديثا منكرا : " أحلت لنا ميتتان و دمان " .
و قال عباس الدورى ، عن يحيى بن معين : ليس حديثه بشىء .
و قال البخارى ، و أبو حاتم : ضعفه على ابن المدينى جدا .
و قال أبو داود : أولاد زيد بن أسلم كلهم ضعيف ، و أمثلهم عبد الله .
و قال النسائى : ضعيف .
قال أبو زرعة : ضعيف .
و قال أبو حاتم : ليس بقوى فى الحديث ، كان فى نفسه صالحا ، و فى الحديث واهيا 
. قال الحافظ فى "تهذيب التهذيب" 6/178 :
و قال ابن حبان : كان يقلب الأخبار و هو لا يعلم ، حتى كثر ذلك فى روايته من
رفع المراسيل ، و إسناد الموقوف ، فاستحق الترك .
و قال ابن سعد : كان كثير الحديث ، ضعيفا جدا .
و قال ابن خزيمة : ليس هو ممن يحتج أهل العلم بحديثه لسوء حفظه ، هو رجل صناعته 
العبادة و التقشف ، ليس من أحلاس الحديث
3865

Abd Rahman bin Zaid bin Aslam al Qurasyi , al adawi – maula mereka – al madani , maula  Umar bin Al Khatthab – saudara Abdullah bin Zaid
Tempat lahir:
Tingkatan : 8 dari pertengahan atbaut tabiiin
Wafat 182 H
Perawi Tirmidzi dan Ibn Majah ( bukan perawi Bukhari, Muslim, Nasai , Imam ahmad ).
Martabatnya menurut Ibn Hajar: Dia  lemah
Martabatnya menurut  Dzahabi : Mereka melemahkannya.
Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata: Aku mendengar ayahku melemahkan perawi Abd Rahman bin Zaid bin Aslam
Beliau meriwayatkan hadis munkar " Di halalkan dua bangkai dan dua darah "
Abbas addauri dari Yahya bin Ma`in berkata: Hadisnya  bukan sesuatu ( tidak sahih atau hasan ).
Bukhari  dan Abu Hatim berkata: Ali bin Al madini menytakan : Dia sangat lemah.
Abu Dawud berkata: Seluruh anak  Zaid bin Aslam adalah lemah. Dan paling baik adalah Abdullah.
Nasai  berkata: Dia lemah
Abu Zar`ah berkata: Dia lemah
Abu Hatim berkata: Tidak kuat hadisnya , untuk dirinya dia orang baik, tapi di bidang hadis dia lemah.
Al Hafdh Dzahabi berkata:  dalam  kitab  Tahdzibut tahdzin 178/6
Ibnu Hibban berkata: Dia memutar balikkan hadis, dia tidak tahu sehingga banyak dari riwayatnya yang memarfukkan  hadis mursal , hadis mauquf di sambungkan sanadnya hingga layak di tinggalkan.
Ibn Sa`d berkata: Dia banyak meriwayatkan hadis , sangat lemah
Ibn Huzaimah berkata: Dia tida termasuk orang yang dibuat hujjah hadisnya  oleh ahlul ilmi karena hapalannya jelek .  Dia  lelaki yang  selalu beriadah , hidup sengsara dan bukan orang yang pegangannya  hadis atau tokohnya.
Mausuah ruwatil hadis  3865.

Komentarku ( Mahrus  ali ):
Jadi hadis tentang bangkai ikan dan belalang di halalkan adalah lemah sekali,  bukan  hadis  yang sahih  atau hasan. Tidak dikenal dikalangan sahabat dan  tabiin kecuali hanya satu orang. Bila kita makan bangkai ikan yang kebanyakan di pasar – pasar itu dengan landasan hadis itu , kita akan sesat dan keliru. Kita di jalan yang serong bukan di jalan yang lurus. Hadis lemah tidak boleh dibuat pegangan untuk menghalalkan bangkai yang telah diharamkan dalam ayat;
إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Baqarah 173
Seandainya sahih  tidak boleh dibuat pegangan karena benturan dengan ayat. Apalagi ia hadis yang lemah. Apakah kita tega membuang ayat lalu mengamblil hadis lemah itu.
Fakhruddin al Munadhir berkata:
فإذا تعارض متواتر مع آحاد قدمنا المتواتر، وهذا عند جميع الأصوليين.. مما يعني لو ان حديثا تعارض مع آية- قدمنا الآية ورددنا الحديث - إن كان الجمع بينهما مستحيلا-... وقد كان الإمام مالك يقدم عمل اهل المدينة عند التعارض مع حديث الواحد لأن عمل أهل المدينة في القرون المفضلة نقلي يبلغ عنده مبلغ التواتر.

Bila hadis mutawatir bertentangan dengan hadis Ahad, maka  kita dahulukan hadis Mutawatir . Pandangan ini menurut  seluruh Ushuliyiin  - termasuk  juga  bila hadis  bertentangan dengan ayat, maka  kita dahulukan ayat dan kita tolak hadis bila  sulit/ mustahil  di ambil jalan tengah. Sungguh  imam Malik mendahulukan perbuatan penduduk Medinah ketika konflik atau kontradiksi  dengan hadis seorang perawi . Sebab  prilaku  penduduk Medinah dlm abad – abad  yang utama termasuk masih naqli ( kutipan dari para sahabat/ boleh dikatakan masih orsinil ) yang boleh di katakan mencapai derajat mutawatir.
http://www.eltwhed.com/vb/showthread.php?2021
Saranku, jangan beli bangkai ikan di pasar, tapi belilah ikan hidup dan sembelihlah dengan nama Allah seperti Nabi Musa ketika berangkat  ingin ketemu hamba Shalih Hidir juga membawa bekal ikan hidup bukan bangkai ikan atau ikan yang mati . terjemahannya sbb:
  Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.
Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini".
( 63 )   Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali".
( 64 )   Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari". Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Surat kahfi
Quran  juga menganjurkan makan daging ikan yang segar bukan bangkai ikan yang sudah mati lama , dagingnya kering  tanpa di sembelih dengan nama Allah seperti ikan asin yang penuh  dengan formalin.
Ingatlah firmanNya:
وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. Nahel 14

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan